ITS Surabaya Gelar Business Sharing Session


Surabaya - Selain fokus pada pengembangan pendidikan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya juga berupaya sebagai penghubung antar industri membantu peningkatan profit pada perusahaan.

Satu di antaranya dengan memfasilitasi kegiatan Business Sharing Session dengan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertajuk Emerging Business Model in Modern Supply Chain: Generating Revenue Stream.

Kegiatan ini merupakan kerjasama antara Kementerian BUMN yang diwakili oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media dengan Direktorat Inovasi Kerjasama Kealumnian ITS dan Departemen Manajemen Bisnis ITS.

"Dengan adanya kegiatan sharing session dengan para direksi dan komisaris BUMN dalam pemahaman business model yang benar, BUMN akan bisa lebih terarah dalam meningkatkan daya saingnya," jelas Ir Arman Hakim Nasution MEng Sc., ketua panitia.

Untuk itu, lanjut dosen Manajemen Bisnis ini, karena ITS sudah bersatus PTNBH, maka ITS siap menjadi partner bagi BUMN dalam mengembangkan kinerja ke depan.

Dipilihnya topik supply chain and business model, menurut Arman, dikarenakan supply chain sudah in sepuluh tahun yang lalu, sedangkan business model baru in lima tahun yang lalu.

Dalam forum ini ITS juga berhasil menghadirkan pembicara, Dr Benny E Tjahyono PhD MSc BEng dari Sekolah Manajemen Universitas Cranfield, UK, berkat program SAME yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti).

"Karena ITS dapat grand award dalam program SAME, sehingga tidak perlu membayari profesor dari luar yang mengisi materi ke ITS dan itu harus kita daya gunakan," ungkap Arman.

Forum diskusi tersebut pun, menurut Arman, merupakan triple holic antara bisnis, pemerintah, dan akademisi, khususnya ITS Surabaya.

Selaras dengan Arman, Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc, Wakil Rektor IV ITS mengungkapkan bahwa forum grup diskusi antar direktur BUMN dan komisaris BUMN tersebut diharapkan bisa mengawinkan kegiatan-kegiatan yang juga dilakukan ITS.

"Direktorat Inovasi ITS bertugas menghubungkan antara ITS dengan industri, untuk sementara ini dengan BUMN. Sementara itu, BUMN punya program yaitu diskusi internal para direktur utama dan komisaris utama," tutur pria yang akrab disapa Ketut ini.

Dengan memanfaatkan program SAME dari Dikti, ITS menawarkan pembicara yang cocok untuk kegiatan forum diskusi BUMN, yakni seputar supply chain.

"Program SAME dari Dikti itu membiayai profesor luar negeri untuk berkunjung dan bekerjasama dengan profesor di Indonesia. Begitu pula dengan profesor di Indonesia antara satu hingga dua bulan ke luar negeri untuk menjalani riset, salah satunya ialah Dr Benny yang menjadi pembicara ini," jelas guru besar Teknik Sistem Perkapalan ini.

Dari kegiatan diskusi tersebut, lanjut Ketut, ITS akan menindaklanjuti dengan menghubungi masing-masing direksi BUMN termasuk Kementerian BUMN untuk mengadakan kerjasama dengan ITS.

Menurut Ketut, bila tiap BUMN mengadakan Research and Development (R&D) sendiri tentu mengeluarkan biaya yang lebih besar.

"Untuk itu, ITS akan mengajak BUMN menaruh orang di lembaga penelitian ITS, bekerjasama dalam R&D dengan peneliti dan mahasiswa ITS, kemudian hasil risetnya bisa langsung diserap oleh industri BUMN," ujar Ketut.

Setelah sharing session dan diskusi, para direksi dan komisaris BUMN diharapkan sudah bisa lebih terbuka pemikirannya.

Sebenarnya apa kelemahan sistem supply chain yang mereka miliki di industri masing-masing dan di sisi mana ITS bisa menambal kelemahan.

"Setelah mereka ikut kuliah, mereka timbul hipotesa, dan untuk membuktikan hipotesa yang butuh kajian, ITS bisa membantu dengan fasilitas penelitian di ITS," pungkas Ketut


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top